Hakikat KAYA
Ukuran hari-hari mungkin berbeda-beda, meski jumlah hitungan jam dalam sehari kita sama. Apa yang membuat beda? Berharap tulisan ini memberikan inspirasi ke dalam diri pribadi, agar makin sadar akan pentingnya memanfaatkan waktu.
Ga usahlah bicara Om Bill Gates yang penghasilannya perharinya sama dengan gaji seluruh pegawai dan anggota DPR/MPR RI Sebulan. Halah, silakan itung sendiri-lah. Atau Michael Jordan yang pada masa jayanya memiliki gaji sebagai bintang sepatu melebihi gaji seluruh pegawai pabrik sepatu tersebut. Hahaha.. Ini bukan cerita bohong, tapi begitulah di satu sisi ada orang kaya yang hidup dan kerja dengan hari yang hanya 24 jam ini. Sedangkan kita (saya khususnya), hanya bisa hulang-huleung dengan 24 jam di hari-hari saya.
Bukan sesuatu yang mutlak memang, tapi MENJADI KAYA adalah keharusan. Lah kok? Mari menerawang sejenak, berjalanlah ke pinggiran kali di Jakarta (buat orang Jakarta), atau berjalanlah di bawah jalan layang Pasopati (bandung), atau ke daerah pengungsian korban lumpur LAPINDO di Sidoarjo. Hhmm, apa yang terbersit dihatimu, nak?
Ini cerita di lampu merah Pasteur, tiap hari ada aja anak-anak kecil yang ngamen. Bukan ngamen yang jadi masalah. Tapi, apa gak ada yang bisa dilakukan selain ngamen? Nah, ini kalau ditarik ujungnya, mestilah UUD (bukan Ujung-Ujungnya Duit) yang tidak dijalankan. Miris, tapi juga bingung. Apa yang bisa kita (saya)lakukan.
Dalam blog kang eep ada beberapa tulisan yang inspiratif. Saya hanya ingin menambahkan, kita mesti bisa jadi bagian solusi permasalahan bangsa ini. Kita harus BERGERAK!. Tidak bisa tidak, MESTI. Salahsatunya adalah dengan menjadi kaya. Catatan, kaya yang seperti apa??
- Kaya dengan tujuan kebaikan
- Kaya dengan produktivitas yang baik
- Kaya dengan penyaluran yang baik
Ngarang, silakan buktikan sendiri-sendiri. Saya berbagi ini, agar kita tidak salah jalan atas 24 jam yang kita punya. Ada seorang kaya di negeri Indonesia, yang kerjaannya judi keliling dunia. Tentunya ia punya jet pribadi. Hari ini mungkin di London, besok di Singapura. Temen-temen ikhlas kalau ada orang kaya punya kelakuan seperti itu? Saya sih Enggak!!
Silakan kritisi, tapi ingat tiap kita punya nilai KEKAYAAN tersendiri. Jangan lupa, 24 jam itu lama. Cukup untuk menyadari bahwa harga minyak naik. Halah.. ya, cukup untuk menaikkan omzet dagangan. Cukup untuk pulang-pergi Bandung-Surabaya naik kereta, atau Jakarta-Medan naik pesawat. Cukup untuk sampai pada puncak Ciremai. Bahkan Puncak Rinjani via Sembalun lawang.
Bikin Malu Saja
A Champions is someone who gets op even they can’t
Di tengah keasyikan surfing internet untuk mendalami ilmu kekebalan, eh ilmu internet marketing. Blogesphere Indonesia hari ini diwarnai dengan maraknya PHK besar-besaran, khususnya bagi para tukang parkir (jasa parkir domain, red). Setelah bulan Agustus lalu terjadi pada publisher Adsense yg berafiliasi ke Google.
Teringat sebuah lirik lagu lawas dari Slank-H.A.M. Burger (Album Minoritas)
“Sahabat datang dan pergi ……… oh kadang menghianati
Begitupun rasa cinta ………oh kadang mengecewakan!”
Sepertinya ini analogi paling tepat untuk menggambarkan tragedi di dunia tukang parkir Indonesia saat ini. Karena kalau boleh dibilang, tidak sedikit yang menggantungkan hidupnya dari penghasilan sebagai tukang parkir.
Ya, ini ibarat rasa cinta yang terkadang mengecewakan. Sebagaimana mas goyangan, yang baru dikhianati sama Intan, Agnes, dan terakhir Tyas. Begitulah, mas. Sabar toh.. masih ada Gita Gutawa.
Apa yang menarik? Filosofi di awal tulisan ini adalah jawabannya. Selain juga meredakan gelisah hati saya (yang akunnya dibanned google), semoga bisa jadi semangat buat para tukang parkir dan rekan2 lain yang mengalami nasib sama seperti saya. Hohohoho J
“Ku tertawa, walau hati kecewa
ya … Kupaksa untuk tetap tertawa
Ku bernyanyi, walau hati menangis
ya … Ku coba untuk tetap bernyanyi
walau kau ikat tanganku, walau kau bungkam mulutku, walau kau jegal langkahku, persuma.. walau kau tutup mataku, walau kurung tubuhku, tapi smua mimpi2ku kan tetap ADA..
Kita coba betulkan jalan kita bersama, coba kita mencari jalan keluar
Jangan tunggu orang lain, jangan tunggu bangsa lain, bikin MALU saja!!”
Maka, sejatinya seorang pemenang adalah bukan manusia yang tak pernah mengalami kekalahan.
Internet Wasting Time
Tiga bulan belakangan ini banyak waktu terbuang dengan ngoprek laptop a.k.a. browsing teu pararuguh dan juga chatting yang benar2 menyita perhatian tak perlu.
Berawal pada kekaguman sebuah blog mas isnaini mulailah saya berpikir, bahwa ada sesuatu yang bermanfaat dengan berinternet-ria. Salahsatunya adalah dengan memanfaatkannya untuk bisnis. Atau lebih dikenal dengan internet marketer. Dua bulan berlalu dengan bengong kemudian sampailah saya pada blog priyadi yang mengupas pertemuan dengan Pak Yusril, menarik sekali. Singkat cerita,entah dari mana awalnya berkenalanlah saya dengan mas cak, pengangguran 17 bulan dengan penghasilan perbulan saat ini berkisar 300-500$ sebulan. Mungkin saat ini lebih dari itu. Diskusi tentang peluang bisnis di internet lewat parking domain. Sungguh menarik, dari sini tekad saya semakin bulat untuk terjn bebas ke earnings online. Tapi, banyak kendala ternyata. Khususnya terkait masalah keuangan untuk beli domain. Uang pas-pasan buat hidup disini saya pertaruhkan (ciee..), dengan mengirimkannya ke Indonesia sebagai modal untuk aktivasi internet. Karena rencananya bisnis ini akan digeluti lebih dalam seusai stage-3 alias setelah saya beres kuliah.
Kemudian, iseng2 saya coba daftar google adsense. Soalnya ini yang marak diperbincangkan oleh mas cosa yang orang bilang pakar/ master google adsense. Mulailah saya mendaftar. Minggu pertama pendapatan saya 30$. GILA!!! Ini sesuatu yg menjanjikan. Sayangnya, saya kurang bijaksana. Alias tidak jujur. Karena sempat meminta kawan2 saya diberbagai penjuru dunia untuk mengklik. Mungkin sederhana, tapi ini perbuatan terlarang. Saya menyesali benar, karena sehari setelah earning saya meningkat menjadi 8$ (mungkin ini yg disebut tidak wajar, karena blog baru), maka saya dibanned. Ya, mau bagaimanapun saya yang salah.
Saya trauma, sampai suatu ketika saya putuskan untuk membuka diri. Saya coba add YM para master, bocah adsense, juga mas baladika. Yang semuanya ternyata luar biasa baik, dan terbuka menerima saya yg bajingan. Kembali semangat saya bangkit, dan setelah berbagai masukan saya coba fokus untuk membangun blog saya sebagai media umum juga pembelajaran buat semua orang tanpa batas. Sebelumnya blog ini hanya untuk pribadi dan teman2 dekat.
Saya mencoba untuk daftar Adbrite, dan memasangnya di Meaningful Life 2012 salahsatu blog yang berisikan tentang penataan hidup saya juga fokus saya selama 5 tahun ke depan. Bismillah.. modal semangat baru dan keyakinan bahwa Allah Maha Luas RezekiNya, saya niatkan terjun bebas ke dunia tanpa batas, dan penghasilan tak terbatas. Betul begitu mas cosa, bay, cak, baladika??
Hormat saya,
~Pembelajar
Bunda, maafkan anakmu..
Yang paling aku tak tahan adalah melihat bunda menangis karena kesalahanku. Seingatku, dua kali aku membuatnya menangis. Dan keduanya sangat-sangat aku sesali.
Parahnya di hari Ibu kemarin, entah kenapa telepon via internet ke rumah ga nyambung2. Tambah bête, tapi tak apalah, semoga postingan ini menebus kerinduanku pada bunda.
Ibu, selama ini aku tak begitu memperhatikanmu.. betapa keriput di wajahmu bertambah seiring bertambahnya kenakalanku dari masa ke masa. Rautmu tak pernah berubah untuk menatap setiap raut wajahku yang kadang meledak-ledak ketika berbicara denganmu.
Ibu selama ini aku tak begitu menyadari.. betapa cintamu padaku begitu besar, lebih besar dari pacar-pacarku di masa lalu. Bahkan, jauh pengertian daripada wanita yang pernah menjadi pendamping hidupku. Hingga akhirnya aku mengerti, semua yang kauberi adalah cintamu yang tak mungkin kubalas. Meski dengan goresan karya dan pengabdian seumur hidupku.
Bila mengingatmu, aku tak sanggup untuk tak menangis. Dengan berat kelahiranku, semestinya aku sadar bahwa Sembilan bulan engkau bawa aku kemana engkau berjalan. Sungguh, itu sangat memberatkanmu. Tapi, sampai hari ini engkau tak pernah menagihku untuk membalas itu.
Kata-kata kemarahanmu membuatku merinding, karena memang hanya engkaulah manusia yang pernah melahirkanku ke dunia ini. Maafkan aku Bunda..
Karena kebajinganku telah membuatmu menangis di beberapa bulan ke belakang. Di masa yang seharusnya aku bisa menjadi kebanggaanmu sebagai seorang putra. Dan waktu tak mungkin berulang, seperti sesal ini yang takan pernah hilang. Aku sadar betul engkau adalah wanita tegar. Setegar ketika engkau melahirkanku, meski bapak tak ada di sisi Ibu kala itu. Kutahu bapak pun menyesal karena dating terlambat. Tapi, aku tahu juga bapak berusaha untuk hadir di sisimu. Meski harus berjalan kiloanmeter di tengah hutan yang selama 3 tahun kemarin jadi tempat aku menuntut ilmu.
Kalau saja aku tahu bagaimana membalas semua jasamu, aku ingin sisa umurku ini bisa membahagiakanmu. Aku tak ingin melihatmu menangis lagi. Aku tak ingin buatmu menyesal telah melahirkanku ke dunia. Aku mencintaimu, bahkan lebih dari cintaku pada hidup ini. Aku rela mati, demi ridhomu atas kehadiranku.
Sekarang, jauh jarak aku darimu. Tapi ketahuilah, hadirmu begitu dekat di hatiku. Di hari-hari aku sendiri, engkau jadi semangat untuk aku bertahan dan tidak mengeluh. Seperti engkau yang tak pernah mengeluh membawaku dalam rahimmu, menetekku selama sekian bulan, padahal berat kelahiranku itu..
Bunda, aku mencintaimu. Ijinkan aku menjadi anakmu.. meski kusadari, aku terlalu bajingan untuk menjadi seorang manusia. Selamat hari Ibu.
Vlissingen, dalam harap kudapat mendekapmu erat..
Simpang
pernah suatu ketika aku bersimpang jalan dengan waktu, Ia bertanya “hendak kemanakah aku?”. aku membisu, karena selama ini aku membiarkan kakiku melangkah kemana ia ingin. Entah melawan arus waktu atau mengalir bersama sang waktu.
saat itu aku hanya terpaku, dan untuk kedua kalinya Ia bertanya “hendak kemanakah aku?”. semestinya aku hanya perlu menjawab “tak tahu”, tapi aku terlalu malu. karena seyogyanya sang waktu selalu berjalan maju, dan tak pernah berhitung mundur.
aku sedang merenungi, sejauh mana langkah kaki ini mengikuti sang waktu. dua jam berlalu, masih di simpang tadi. dan ketika kusadari, yang bertanya tak lagi di depanku. Aku coba mengejarnya, barangkali masih tak jauh.
Sejam, dua jam, sehari, dua hari, sang waktu tak dapat kutemui. dan hitungan bulan berlalu, aku sendiri masih kebingungan mencari jawaban yang pas untuk kujawab dan kupertanggungjawabkan pada sang waktu yang bertanya.
sisi hati meragukan eksistansi diri, “hendak kemanakah aku?” tanya hati. sekali lagi aku menyelami tanya dalam hati, smoga kali ini kudapat jawaban sejati. entah mengapa, aku ingin bisa menjawab pertanyaan ini dengan sebaik-baiknya. padahal belum tentu juga aku punya cukup waktu untuk melangkahkan kakiku. tapi, aku berharap ketika sang waktu bertanya lagi (meski entah kapan) aku bisa menjawabnya dengan lugas dan penuh keyakinan.
“aku hendak kemana aku menuju”, begitu aku coba meresapi jawaban yang kutemui di hati. pertanyaan berikutnya, hati masih tak tahu kemanakah aku menuju, “hendak kemanakah aku menuju??”. dan kembali aku tertegun.
bantu aku menjawab tanya hati di hatiku. semoga aku bisa menemukan jawabannya, sebelum sang waktu datang dalam rupa yang lain. hingga simpang ini cukup mengarahkan aku, kemana aku menuju.
Separuh Bulan-Stage 2
Apa kabar dunia?? Tetep, asyik..
Alhamdulillah, masih bisa silaturahmi sama temen2 semua melalui blog ini. Berbagi cerita tentang stage-2 episode kuliah di luar negeri, semoga membawa hikmah khususnya buat pribadi umumnya buat temen2 yang selama ini slalu setia di berbagi cerita ini.
Diawali dengan kegundahan di project microsystem (fase-1), yang dengan perobotan dan beragam tetek bengek microgripper. Alhasil, kelompok aye menjadi salah satu kelompok yang project-nya dinyatakan layak masuk fase-2. Fase-2 ini adalah pengaktualisasian konsep fase-1. Yah, kerja 4 minggu berpusing ria browsing, dll tak sia-sia juga.
Kemudian dilanjutkan dengan excursion (jalan-jalan) ke MESA+ di Enschede, Belanda. Industri satu ini merupakan bagian dari University of Tweente, salah satu universitas terkemuka di Belanda dengan koor utamanya bidang teknik. Termasuk di dalamnya teknik kimia (katanya terbaik di Belanda, dulu kan yang terbaik TU Delft). Di sana, aye melihat banyak riset mengenai microfluidic, microreactor, pokonya berhubungan dengan teknik kimia (jarang2 kan.. he3..). Banyak sekali kegunaan me-micro-kan alat2 di berbagai industri saat ini. Tidak hanya pada industri teknik kimia, juga pada bidang kesehatan. Alat penfengaran, pelancar nafas (penyakit asma), dll.
Dan sekarang, ada practical study di Gelsenkirchen (Jerman). Lumayan sekalian liburan, seminggu aye di sini. Ya, suasana baru. Beda banget dari Negara Belanda, transportasi di sini cukup sulit. Selain itu, komunikasi kebanyakan digunakan dalam bahasa Jerman. Jadi, aye dibuat repot. Tapi lumayan, refreshing telinga (ha3).
Lanjut, stage-2 ini masih menyisakan 4 minggu perkuliahan di Utrecht termasuk ujian akhir semester. Dan persiapan internship a.k.a. graduated assignment (stage-3). Bismillah..
Oiya, mohon do’a dari temen2 ya. Dana aye mepet, smoga di stage-3 aye bisa dapet gaji yang lumayan. Ya, 5-6juta rupiah dah.. (400€), soalnya kebutuhan di sini sekitar segitu per bulannya. Dan terakhir, smoga saya kuat iman serta mampu menjaga kesehatan (dah mulai beku nih..).
Gelsenkirchen, Germany
Muhammad Rijal ARS.
Hidup Sederhana, Bukan Hidup Miskin
“sayang, aku tak bisa berjanji akan membuatmu hidup penuh dengan kegelimangan harta. Aku hanya menawarkan hidup sederhana, dengan segudang cita dan semangat yang kupunya. Semoga itu dapat membahagiakan kita, setidaknya anak-anak kita bisa belajar dari pilihan-pilihan hidup yang kita ambil”
Sesaat saya terdiam, merenungi kata yang kurangkai sendiri. Kata-kata ini memang belum menemukan pelabuhan yang resmi lagi, pelabuhan yang mengikat biduk cinta dan pengharapan. Tapi, aku masih menantikan ia hadir di akhir pendakian gunung besar saat ini.
Sejatinya, hidup ini adalah serangkaian pilihan. Itulah yang dulu tertanam dan sampai saat ini membuat saya dewasa. Bukan sebagai apologi atas segala pilihan yang dinilai salah oleh orang-orang. Menjadi Diri Sendiri adalah sesuatu yang terkadang bagi sebagian besar orang sulit, termasuk saya.
Sekian gunung mengajarkan saya untuk pandai-pandai memilih jalan. Ya, ini salah satu hikmah masuk PHIPETALA yang tidak tertulis kemarin. Selain itu, memilih jalan terkait juga dengan pengharapan. Antara ingin dan tidak ingin, juga antara tujuan dan proses pencapaian. Karena kebahagiaan bukan sekedar akhir dari tujuan, melainkan juga prosesnya. Ya, filosofi yang ini memang terkait filosofi telur-ayam. Tapi, begitulah. Kita harus memilih untuk memandang dari telur, atau dari ayam dulu. Kita mau memandang dari kali pertama yang mana, sehingga kita bisa mengatakan yang ini proses dan yang lainnya tujuan.
Belajar bersyukur dengan sekian nikmat yang Allah SWT berikan di kehidupan kita, semestinya membuat kita makin awas. Ya, namanya belajar mestilah ada nuansa jatuh-bangun. Kali ini saya ingin mengajak calon pendamping saya lebih memahami, bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang terkira.
Peristiwa masa lalu, pun termasuk peristiwa yang saat ini (kuliah ke Belanda). Mengajak saya untuk lebih awas, terhadap segala HTAG (halangan, tantangan, ancaman dan gangguan) yang tidak pernah berhenti menggoda. Sejujurnya saya mudah tergoda, saya tahu dimana saya lemah, saya berusaha untuk tidak terkalahkan (lagi). Bismillah..
Lanjut, maka hidup sederhana yang dibangun bukan berarti menyengsarakan diri. Bedakan, hidup sederhana bukan berarti miskin. Semangatnya adalah semangat memenuhi kebutuhan diri, bukan keinginan. Kalaupun ada lebihnya itu hak orang lain.
Maka, kita coba sekarang. 18 juta rupiah ini sebagai awal perjalanan hidup kita membangun mimpi. Meski dengan begitu artinya, saya harus ekstra keras dan cerdas untuk bisa bertahan hidup di negeri ini dan untuk membeli tiket pulang ke mimpi kita. Sekali lagi, bismillah.. Allah Maha Tahu, kita bisa.
Reimbursement
Ada yang sering membuat resah di beberapa hari ke belakang. Entah pengaruh masa lalu pernikahan yang tidak berjalan mulus, sehingga menjadi belenggu diri. Atau karena persoalan kuliah saat ini.
Kuliah di luar negeri bagi sebagian besar orang merupakan hal yang menarik, begitupun bagi saya. Alhamdulillah, kesempatan itu datang lebih awal. Bahkan sebelum wisuda program diploma saya tahun ini.
Tiga bulan berlalu, perkuliahan berpindah tempat ke luar kota. Memang agak jauh, kurang lebih 3 jam dengan menggunakan kereta. Belanda termasuk negara yang memiliki alat transportasi publik yang baik dan relatif nyaman. Sehingga perjalanan Vlissingen-Utrecht, serasa biasa saja. Meski terkadang cukup melelahkan. Setiap pekan dari Rabu sampai Jum’at ada kelas tatap muka (meeting) di Utrecht. Sedangkan Senin dan Selasa masih bisa melalui video conference. Oleh karena itu setiap Selasa malam saya berangkat ke Utrecht, dan kembali ke Vlissingen pada Jum’at malam.
Utrecht-less than 30 €
“But I am here whenever you need someone to talk to”
Ketika jalinan ujian menghampiri dalam bentuk lain, adakah kita menyadari bahwa nikmat ini adalah juga ujian?. Manusia ini kembali menghadapMu ya Rabbi.. mempersembahkan tangisnya dalam lautan hikmahMu.
Jalinan cerita yang Engkau gariskan hanyalah setetes dari samudera hikmahMu yang Maha Luas. Aku malu untuk mengadu, sepertinya masih banyak orang-orang yang lebih pantas dibandingkan aku. Apa yang kulihat mungkin tak sampai separuhnya dari yang ingin Engkau ingatkan padaku. Tapi, sekali lagi aku menangis. Mengingat apa yang telah aku keluhkan tentang nasib diri. Padahal jika dibandingkan segala nikmatMu, ujian-ujian lalu bukanlah apa-apa.
Ketika aku merasa semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, Engkau memberikanku waktu luang untuk memahami setiap kesibukan yang ada..
Aku dan Teteh-Sebuah Risalah Cita
“Kami dilahirkan bukan sekedar untuk mati”
Muhammad Rijal ARS, begitu nama saya biasa tertulis. Saya berasal dari keluarga sederhana, dan kerap kami menamakan “keluarga rame”. Saya anak ke-2 dari lima bersaudara. Lelaki tertua di keluarga, cucu laki-laki tertua di dua keluarga besar. Sejak usia 8 tahun, saya tinggal bersama nenek di Tasikmalaya. Entah atas alasan apa, orang tua saya menitipkan 3 dari 5 anaknya untuk tinggal bersama mamah (panggilan nenek). Sederhananya mungkin karena saya bandel di Bandung, tukang berkelahi (kepala sempat dijahit gara-gara berantem, he3.. J). Read more



