Sugar Trading

Hostingan Gratis

January 28, 2008 by bangzenk · Leave a Comment
Filed under: Earning Online 

Tanpa bermaksud macem-macem. Tapi berhubung sudah sekian e-mail masuk ke mailbox, melalui postingan ini saya beritahukan bagi teman-teman yang memerlukan hostingan gratis. Sekali lagi, HOSTINGAN GRATIS.

Kapasitas lumayan-lah:
They provide hosting absolutely free, there is no catch. You get 250 MB of disk space and 100 GB bandwidth. They also have cPanel control panel which is amazing. Moreover, there is no any kind of advertising on your pages.

Terserah pembaca budiman, tapi sekali lagi yang sedang mencari hostingan gratis, ingat hostingan gratis.

Yang niat silakan klik banner, yang ga niat ga usah juga ga papa.. daripada e-mail terus-terusan masuk.

Free Web Hosting

Saya ga ngerti masalah hostingan, jadi jangan tanya saya. Hehehehe… :kabur:

Setelah Bosan

January 28, 2008 by bangzenk · 5 Comments
Filed under: Catatan Anak Manusia, Syukur 

Melihat tayangan televisi terkait meninggalnya Pak Harto membuat terusik untuk blogwalking. Ada mantan ketua BEM FH Univ. Andalas, yang bercerita tentang kajian menengah komprehensif (karena beliau mengakui kajiannya kurang komprehensif =)) terhadap Pasal 33 UUD 1945. Baca aja sendiri yah..

Bosan dengan tema pandangan politik, saya kembali ingin melampirkan catatan anak manusia.

Pekan kemarin merupakan pekan ujian, ujian stage-2 (baca: blok dua). ya, ujian akhir semester, mudahnya begitu sulitnya minta ampun. Kemudian disibukkan dengan tugas yang belum selesai terkait perobotan yang sempat bikin muak. Project ini juga yang mengantarkan saya mengunjungi Jerman (liburan gratis =)).
Namun demikian, sedikit berbagi. kesibukan saat ini adalah mencari kamar di Eindhoven. Eindhoven merupakan salah satu kota cukup besar di Belanda, mengingat historis-nya dan juga kotanya yang dimana perusahaan kelas dunia ada, PHILIPS. Selain itu, Eindhoven memiliki lapangan terbang sendiri, Adi Sucipto-lah kalo di Indo mah. Heheh..

Ya, yang ingin dibagi adalah:
1. Belajar-bersyukur
dalam pandangan saya gusar itu datang ketika tidak memiliki rencana, kemudian suatu rencana tidak atau belum dilaksanakan. Solusinya adalah konsep manajemen: tulis yang mau dilakukan, lakukan apa yang ditulis, dan tulis apa yang sudah di lakukan.
alhamdulillah, saya diterima untuk workplacement di PHILIPS, Eindhoven. Selama enam bulan ke depan saya akan bersibuk ria dengan kerjaan di Philips (catatan: ini graduation assignment).
proses gusar saya menatap sisa hidup di sini (Belanda) yang masih lama dengan kondisi keuangan yang negatif, terbayar sudah. ragam usaha dan do’a jadi satu. kembali, Alhamdulillah.

2. Belajar-memahami
memahami dalam pandangan saya adalah lebih dari sekedar mengerti, karena mengerti terkesan diktator sedangkan memahami egaliter. terkait apa? diskusi dengan seorang teman mengenai rencana hidup (plan life), 5 peluang yang saya miliki untuk dipilih dan direalisasikan pasca-kelulusan. menarik. bicara tentang peluang S2 di Indo, di Belanda atau di negara lain, juga termasuk mengajar di politeknik di luar jawa. (kebetulan beliau salah satu mahasiswa program master di TU/e, juga salah satu dosen politeknik di Sumatra).
Satu pertanyaannya: mengapa DIKTI memberikan beasiswa tanpa ikontrak dinas???
yang saya belum mampu memahami jawabannya. pertanyaan lain terkait mengapa Amin Rais mengajak memaafkan Soeharto dan lain-lain masih bisa saya jawab dengan modal blogwalking. yang ini belum.
kenapa beliau nanya seperti itu, alasannya karena kebanyakan para beasiswan (istilah ngarang) dengan beasiswa unggulan DIKNAS memilih kerja di sini ketimbang pulang ke Indo, sekalipun sudah memiliki pekerjaan tetap di Indo (katakan dosen).
Nah, ini menarik.. kebetulan kemarin sudah saya bahas tentang hal ini. Jadi tambahan referensi.

3. Belajar-memaafkan
Kalau kamu masih ketua BEM, hari ini apa yang akan kamu lakukan terkait meninggalnya Pak Soeharto?
Jawab saya: Masuk kelas, kuliah. Pimpin do’a di kelas smoga Allah berkenan menerima iman dan islamnya karena kita harus mengenang kebajikan bukan kedzaliman. Seperti apa yang disampaikan Bang Yusril.

Nah Lo?? Gugatan hukumnya mau tidak mau terhenti alias kasus ditutup. Perdata? must go on..

Sementara itu dulu.
Ada beberapa kerjaan:
1. Mencari kamar
2. Beres2 kamar di Vlissingen dan Check Out, sambil benerin sepeda.
3. reimburse tiket ke kampus dan Re-exam (menunggu perkembangan)
4. Tugas a scientific proposal
5. Searching: topik terkait kerjaan di Philips
6. Pindahan (ini yang repot, sodara!!)
7. nunggu dokumen dari Indo terkait aplikasi program master sy disini

Mohon do’a sodara2..
salam hangat

Turut Berduka Cita

January 27, 2008 by bangzenk · Leave a Comment
Filed under: Catatan Anak Manusia 

Indonesia berkabung selama 7 hari ke depan. Mantan Presiden Soeharto meninggal dunia siang tadi. Semoga Allah SWT berkenan menerima iman dan islamnya. Kemuliaan seseorang dinilai atas ketakwaannya, hanya Allah yang tahu. Siapa Soeharto sesungguhnya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran, serta dapatmengambil hikmah dari meninggalnya Pak Harto. Belajarlah dari kesalahan-kesalahan beliau di masa lalu.

Dengan sepenuh hati, saya sampaikan turut berduka cita.

Hormat saya,

Muhammad Rijal ARS

Aku Pasti Kembali

January 25, 2008 by bangzenk · 1 Comment
Filed under: Catatan Anak Manusia, Politik, Syukur 

“Banyak pemuda / pemudi Indonesia yang berada di luar negeri. Mereka mendapat cercaan dan pandangan sinis dari kebanyakan orang di Indonesia. Tidak nasionalis, mau senangnya sendiri, atau apalah. Padahal mereka sebetulnya sangat mencintai Indonesia. Hanya saja Indonesia belum memberikan peluang bagi mereka untuk berkarya secara maksimal. Mereka terpaksa merantau. Saya yakin mereka akan kembali. Hidup di rantau pun bukannya selalu menyenangkan.”

Paragraf di atas saya kutip dari salah satu blog tetangga, blog-nya salah satu dosen ITB bidang IT (mohon maaf kalo salah). Padepokan Budi Raharjo, begitu nama blog beliau. Dari apa yang beliau sampaikan di atas, benar-benar ironis. Pun saya, kuliah di negeri orang bukanlah tujuan utama. Ini adalah serangkaian proses menuju kebermanfaatan (baca: Meaningful Life 2012), yang sudah barang tentu demi kemajuan negeriku tercinta. Bagi saya, kuliah dengan biaya hidup dari pajak masyarakat Indonesia (beasiswa unggulan diknas RI dengan sumber APBN atau apapun namanya) merupakan beban tersendiri. Saya pasti kembali. Insya Allah, itu tekad saya.

Problem selanjutnya ada di itikad Pemerintah Indonesia, terkait sistem maupun fasilitas. Masalah dana boleh dikatakan cukup signifikan, meski bukan yang utama. Komitmen, itu saya kira jawabannya. Konsisten dengan konstitusi yang dibuatnya juga. Contoh sederhana, UU Sisdiknas yang diperjuangkan oleh banyak elemen masyarakat Indonesia (ketika itu saya masih SMA, pun berdemo mendukung pengesahannya) telah MENGHARUSKAN anggaran pendidikan itu 20% (dari mana??, nah looo).

Contoh sistem, bagaimana tidak jika sekelas Doktor tingkat dunia harus mengalami pengalaman yang serba lucu (versi saya lo..) ketika menjalani seleksi penerimaan CPNS di sekali lagi universitas terkemuka, ITB (almamater kakek saya J). Catatan: seleksi CPNS!!! Dan Beliau tetap dengan statusnya sebagai dosen di National Universitas of Singapore, dan beliau sudah lama menjadi dosen di berbagai universitas di dunia.

Bukan memuji, tapi saya salut dengan beliau. Pun saya, ingin bisa sampai seperti itu.. tentunya dengan TEKAD, kembali pulang dengan selamat. Demi Indonesia Jaya!!

 

Turut Berduka Cita

January 24, 2008 by bangzenk · Leave a Comment
Filed under: Catatan Anak Manusia, Cinta, Politik 

Yth. Bpk. Hidayat Nur Wahid

Ijinkan saya pribadi mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya istri Bapak beberapa hari yang lalu..

Kematian adalah pengingat yang luar biasa..

Tetaplah sabar, tetaplah tabah..

Berjuanglah selalu, do’a bangsa Indonesia menyertaimu.. do’a sahabat-sahabat di Belanda.. rekan-rekan yang selalu mendukung perjuangan Bapak.

Hormat saya,

Muhammad Rijal ARS

Pemekaran dan Kesejahteraan

January 24, 2008 by bangzenk · 4 Comments
Filed under: Indonesia, Politik 

Pertama maafkan jika akhir-akhir ini tema politik banyak diangkat di sini, dunia politik Indonesia jarang sekali diangkat oleh para blogger Indonesia. Entah sarat konspirasi atau lainnya, tapi penulis menganggap ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Suka atau tidak suka, mengajak kepala kita memanas dan darah kita mendidih.

Repotnya memberikan pandangan politik terkadang sukar untuk tidak berafiliasi, meskipun demikian penulis berusaha bersikap netral dan jujur. Arti netral di sini lebih ditekankan pada kata hati, tentunya tidak sekedar berpihak pada rakyat dalam menyoroti kebijakan pemerintah tapi juga berpegang pada nilai-nilai kebenaran hakiki.

Teori relativitas kadang menjamah sisi kebenaran, tapi kebenaran hati nurani tak dapat disamakan dengan teori relativitas manapun. Mutlak.

Dua hal yang menarik saat ini untuk dikemukakan adalah mengenai pemekaran provinsi Aceh dan Papua yang sudah dalam tahap RUU dan akan dibahas di Komisi II DPR RI, juga permasalahan kesejahteraan rakyat.

Bila ditelaah lebih lanjut didasari dengan agenda reformasi, otonomi daerah merupakan sesuatu yang harus. Dengan adanya amandemen UUD 1945, UU tentang pemerintah daerah semakin lengkap. Tapi, sadarkah kita akan adanya perpecahan dan tajamnya pertikaian di kalangan masyarakat bawah? Jika Yusril Ihza Mahendra (YIM) mengatakan dalam tulisannya Praktik Ketatanegaraan Kita ke Depan,

Ketentuan mengenai pemilihan kepala daerah ada baiknya juga dikaji ulang untuk mencegah politik biaya tinggi, yang dapat membawa implikasi terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme di daerah. Seringnya Pilkada, baik gubernur, bupati/Walikota, bahkan sampai pada pemilihan kepala desa dan kepala dusun, disamping berpotensi menimbulkan instabilitas politik di daerah, juga dapat memalingkan perhatian rakyat dari pembangunan sosial ekonomi ke bidang politik. Telaah tentang hal ini pada akhirnya akan membawa kita kepada perdebatan yang muncul di awal reformasi, yakni apakah otonomi daerah itu diberikan kepada kabupaten/kota atau kepada provinsi. Setelah sepuluh tahun reformasi, ada baiknya kita merenungkan kembali hubungan pemerintah pusat dan daerah dalam suasana yang lebih jernih.

Boleh dikatakan pandangan penulis selaras, perlu adanya renungan yang jernih. Bilamana dahulu di awal era reformasi banyak perdebatan tentang pemerataan hasil pembangunan dan sebagainya, sekarang saatnya kita merenung. Toh harus kita akui, saat ini muncul raja-raja kecil di daerah bernama bupati dan atau walikota. Peran pemerintah provinsi hampir habis. Sehingga jika dikaitkan dengan pemilihan gubernur jawa barat, Solihin GP sempat menyampaikan pendapatnya bahwa pembinaan ke daerah oleh gubernur menjadi sesuatu yang rumit. Karena peran gubernur sebagai kepala daerah tingkat provinsi saat ini sudah jauh berkurang sejak adanya otonomi daerah.

Menjadi kreatif adalah pilihan bagi siapapun gubernur yang terpilih. Tapi bukan sekedar itu, perhatikan kalimat Bang YIM. Perhatian rakyat saat ini banyak teralihkan ke arena pertarungan jagoannya (istilah Iwan Fals), dibandingkan dengan terhadap kondisi pembangunan ekonominya sendiri. Apalagi masalah pendidikan. Bangsa ini masih jauh tertinggal secara daya saing global, Indeks Daya Saing Global negara kita berada di peringkat 54, di ASEAN Indonesia hanya di atas Filipina (71) dan Vietnam (68). Kita tertinggal jauh dibandingkan Singapura (7), Malaysia (21), dan Thailand (28). (sumber: TEMPO berdasarkan kajian BPS, Transparency International, LSI, dll). Angka ini turun sedikit dari tahun 2006, yakni skor 4,26 dengan peringkat yang sama.

Mari kita lebih jeli lagi memandang pemekaran provinsi ini, terlebih di daerah pasca-konflik. Aceh dengan GAM-nya dan Papua dengan GPM-nya. Harapannya DPR tidak hanya memandang ini secara perpolitikan saja sebagaimana yang banyak dipandang para ahli komentator pemerintah. Melainkan memandang ini secara kebutuhan jangka panjang dan menengah. Sudahlah terlalu banyak rakyat kita bergelut dengan harga-harga bahan makanan pokok yang melambung tinggi dan tak pernah turun, jangan lagi kita disibukkan dengan kepentingan politik kedaerahan semata.

Rakyat ini butuh pendidikan yang bukan sekedar umpama dan pembagian kekuasaan. Tapi kinerja dan kesungguhan. Gaji DPR RI setahun yang rutin itu di atas 554 juta. Itu yang rutin saudara-saudara. Lengkapnya sialakan klik angka tadi.

Menarik memang. Sekali lagi maaf, jika wejangan kali ini cukup membuat dahi saudara-saudara budiman berkerut.

Menyongsong Pilgub Jabar 2008 (2)

January 22, 2008 by bangzenk · 12 Comments
Filed under: Indonesia, Politik 


TIGA calon Gubernur Jawa Barat (dari kiri) Ahmad Heryawan, Danny Setiawan, dan Agum Gumelar yang datang berurutan, mulai menjalani pemeriksaan kesehatan di RSHS Bandung, sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Pilgub Jabar, Selasa (22/1). Tes kesehatan juga dilakukan ketiga calon wakil gubernur.* KRISHNA - RIRIN N.F./”PR”

 

Inilah foto-foto calon pemimpin Jawa Barat dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Sebagai seorang insan Jabar, tentunya penulis berharap besar adanya perbaikan di berbagai bidang di Jawa Barat.

Sebutlah diantaranya masalah pendidikan, baik secara indeks pembangunan manusia maupun infrastruktur penunjang. Berikutnya masalah kesejahteraan di tingkat masyarakat jawa barat yang mayoritas petani, juga nelayan di pesisir utara dan selatan. Ada lagi masalah kependudukan dengan perkiraan 35 juta jiwa berada di Jawa Barat, dan 4,5 juta diantaranya ada di Bandung (sensus 2000). Katakanlah sekarang terpecah ke dalam dua propinsi (Banten), sedikitnya 20 juta jiwa masih berdomisili dan hidup di Jawa Barat.

Silakan berbagi di blog ini, barangkali bisa disusun menjadi draft ajuan “Resolusi Jabar 2008″, menarik sepertinya. Akang-akang, teteh-teteh, mangga..

Foto diambil dari: www.pikiran-rakyat.com

Akismet

January 21, 2008 by bangzenk · Leave a Comment
Filed under: Catatan Anak Manusia 

Mohon maaf bagi teman2 yang komentarnya tidak termuat. Akhir-akhir ini Om Akismet kian ganas. Jadi lebih hati-hati aja. Klo ada problem kirim YM ke saya aja. Sekali lagi, selamat menikmati blog ini.

Salamhangat,
-bangzenk-

[Pak Harto] Soeharto Kecil

January 21, 2008 by bangzenk · 2 Comments
Filed under: Politik 

Menulis tentang mantan penguasa orde baru (1966-1998) harus diakui adalah sulit. Selain sosok Pak Harto yang begitu kompleks, juga kebingungan penulis harus memulai dari mana. Biasanya tulisan tentang biografi seseorang dimulai dari masa kanak-kanaknya, masa remaja, dan seterusnya.

Inilah yang sulit, selain faktor pengetahuan penulis secara objektif baru dimulai tahun 1992. Dimana saat itu penulis masih duduk di kelas 1 tingkat sekolah dasar. Jauh sebelumnya mungkin penulis boleh dikatakan masih bayi secara pandangan politik (baca: buta politik), pun untuk memahami bahwa dirinya lahir di sebuah negeri bernama Indonesia. Oleh karenanya bahasan sebelum tahun itu lebih berlandaskan pada kajian literatur.

Sebelum lebih lanjut, tulisan ini akan dibagi dalam beberapa edisi. Edisi pertama, terkait kehidupan pribadinya. Tanpa memasukkan pandangan politik maupun lainnya. Lebih sebagai pendekatan personal saja dan latar belakang pendidikan Pak Harto. Edisi selanjutnya mengenai karir militer dan pemerintahan, sedangkan edisi terakhir lebih mengenai berbagai pandangan mengenai sosok Pak Harto sebagai pelengkap pandangan. Harapannya di akhir tulisan ini kita mendapati Pak Harto sebagai sosok utuh, bukan hanya mengkritisinya tanpa pernah tahu Soeharto dari berbagai sisi. Selamat membaca! Kritik dan saran silakan YM penulis: rijal_razaq, maupun kolom komentar di akhir setiap tulisan.

SOEHARTO KECIL

Lahir di Kemusuk, Argomulyo, Godean, arah barat dari kota Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921. Kertosudiro, bapaknya yang memberikan nama Soeharto. Kelahirannya dibantu oleh dukun bersalin (istilah bidan jaman dulu) Mbah Kromodiryo, adik kakeknya, Mbah Kertoirono.

Merupakan anak pertama sekaligus yang terakhir dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah. Kertosudiro sendiri sebelumnya telah menduda dengan anak dua. Setelah kelahiran Soeharto, tak lama pasangan ini bercerai. Masing-masing menikah lagi. Sukirah menikah dengan pria bernama Pramono dan melahirkan tujuh orang anak, termasuk diantaranya Probosutedjo anak kedua pasangan ini. Kertosudiro setelah menikah lagi memperoleh empat orang anak.

Mbah Kromo mengajarkan Soeharto berdiri dan berjalan, karena sejak kelahirannya Ibunya sakit. Soeharto kecil sering digendong mbahnya ke sawah, menemani mbahnya mengerjakan sawah, atau ditumpangkan di atas garu.

Setelah agak besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya mbah Atmosudiro, Bapak dari Ibunya. Suatu ketika kerbau yang digembalakan Soeharto terperosok di sungai. Dipikirnya, kerbau itu dapat menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Maka, turunlah Ia ke parit mengikuti kerbaunya dari belakang. Hingga di satu titik sungai itu menyempit dan menyebabkan kerbaunya tak bisa maju ataupun mundur. Soeharto menangis, sampai orang suruhan kakeknya menemukannya. Soeharto lega, karena ia dan kerbaunya lolos dari sungai tersebut.

Soeharto masuk sekolah di usia 8 tahun (1929), tetapi sering pindah dikarenakan Ibunya dan Pramono pindah rumah. Akhirnya Soeharto dititipkan di rumah adik perempuan Bapaknya.

Bibi dan pamannya menerima Soeharto selayaknya anak sendiri dan menjadikannya putra tertua, diperlakukan sama dengan anak-anaknya. Soeharto sangat tekun dalam belajar, terlebih pada pelajaran berhitung dan agama. Ia terbilang dibesarkan di lingkungan yang taat beragama.

Ia sering juga diajak pamannya untuk meninjau ke desa-desa, kebetulan pamannya merupakan Mantri Tani. Di beberapa tempat Ia sering mengikuti tanya jawab antara Pak Prawirohardjo dengan para petani. Ini mungkin yang jadi inspirasinya saat memimpin Indonesia di kemudian hari, hal ini diterapkannya ketika menjabat sebagai Presiden dari 1967-1998.

Sore hari sepulang sekolah, Soeharto mengaji di Langgar (istilah sekarang Mushalla) bersama teman-teman sebayanya. Ia aktif juga di kepanduan Hizbul Wathan. Dari sini patriotisme dan nasionalismenya tumbuh.

Bagaimana? Membosankan ya? Break dulu…

Smoker Boy

January 20, 2008 by bangzenk · 3 Comments
Filed under: Catatan Anak Manusia 

Ya Allah.. kenyataan itu sangatlah pahit..

Dahulu, Bapakku tak mengerti mengapa ketika pendidikan dasar pecinta alam ada salah satu pembinanya rela turun gunung karena kehabisan rokok. Berjalan dari lembang ke bandung untuk mencari sebungkus rokok tentu bukan sesuatu yang mudah di tahun ‘70-an. Tapi itulah yang terjadi, dan nyata.

Sekarang, anaknya terjebak di belahan dunia lain dengan harga rokok sebungkus sama dengan harga tiket kereta api bandung-jakarta kelas bisnis. Dan masih dalam ketidakmengertian yang sama, kenapa bisa rela minta-minta batangan rokok ke teman seapartemennya karena kehabisan stok rokok.

Rela menelepon teman-temannya yang kerja di perusahaan rokok di Indo hanya untuk minta dikirimin rokok beberapa slop. Dunia apa ini. Malu, sungguh memalukan. Rijal hari ini rokok addict alias smoker boy. Sampai hari ini TIDAK ADA ALASAN KUAT buat saya merokok, tapi masih saja saya merokok. Berat beban ujian kemarin di kehidupan saya bisa jadi penyebab stress, tapi kenapa harus ke rokok??? pertanyaan retoris.

Lingkungan di sini tidak memaksa saya untuk jadi perokok. Lantas kenapa saya terjebak??

“Sering aku merasa tak mengerti dengan apa yang ada,
melihat dari kegelapan mencoba mengurai makna,
begitu banyak yang terjadi, begitu banyak yang tak kupahami”


“Aku ingin pergi meninggalkan ini semua, menemani senja yang sedang berduka..
aku harus pergi meninggalkan semua ini, menemui kamu yang mangajak bercinta”

(Iwan Fals&Indra Lesmana-Haruskah aku pergi)

Next Page »