Hardiknas 2008: Seandainya Aku Orang Belanda
Tema peringatan Hardiknas 2008 adalah “Hardiknas 2008 Sebagai Bagian dari Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Bangsa”. Selain diisi berbagai kesenian dan paduan suara, diserahkan pula penghargaan Widyakrama kepada kabupaten, kota, atau provinsi yang sudah berhasil menuntaskan Wajar Dikdas 9 Tahun.
Jika pada Rijal28.info saya coba mengangkat tema Peringatan Hari Buruh Internasional atau yang lebih dikenal May Day dan diperingati setiap 1 Mei. Maka di sini saya mencoba mengangkat peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang jatuh pada tanggal 2 Mei.
Sepertinya kurang elegan jika yang kita tidak membahas sekedar sejarah dan asal muasal Hardiknas. Bukan bermaksud mengenang berlebihan. Tidak, ini hanya sekedar membangkitkan semangat saja. Bagaimana kemudian Hardiknas diperingati setiap tahunnya, sedang kita tidak memahami makna peringatan hari tersebut. Semoga tidak menjadi ritual belaka.
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan Pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si penduduk pedalaman memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghinakan mereka, dan sekarang kita membongkar pula koceknya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahawa bangsa penduduk pedalaman diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikit pun”. (Seandainya Aku Orang Belanda-Ki Hajar Dewantara)
Itulah kalimat yang terucap oleh seorang Ki Hajar Dewantara seabad yang lalu. Coba kita dalam konteks kekinian. Bagaimana sekarang rakyat harus menanggung hutang pemerintah kita sekian tahun ke belakang. Padahal uangnya dikorupsi di mana-mana, bahkan kadang sampai kadang tidak. Coba kita perhatikan, para fakir miskin yang menahan lapar hanya demi menyekolahkan anak-anaknya. Sedang masih banyak pejabat kita yang hidup bergelimang harta dengan suara-suara mereka. Inikah kesuksesan Pendidikan Nasional?
Kemanakah hati nurani kita?? Kemanakah para manusia terdidik Indonesia??
Jika tahun-tahun ke belakang saya bisa turun ke jalan untuk bicara. Sekarang saya jauh, tapi nurani ini tak akan pernah MATI!!.
Wahai para petinggi negeri ini!! Masihkah kalian memiliki hati NURANI!!!!. Berjuta-juta uang rakyat dihabiskan untuk menggelar peringatan HARDIKNAS!!! Tapi anggaran pendidikan 20% saja dipermasalahkan!! Bahkan sekarang sudah dimentahkan Mahkamah Konstitusi!!
Mau dibawa kemana negeri ini BANGSAT!!!
Kalian sembunyi dibalik Pancasila dan UUD 1945. Sementara tak satu pun kalian bisa menjiwai semangat keduanya. BUKTIKAN bahwa kami tidak salah pilih. BUKTIKAN bahwa kami berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Bukan sekedar PERAYAAN, PERINGATAN, atas nama HARDIKNAS!!. Karena jika saja Ki Hajar Dewantara, sungguh bukan HARDIKNAS sekedar tebar hadiah dan pentas kemewahan.
Sudah saatnya negeri ini BANGKIT!! Tak lagi terjebak ritual tak jelas!! Sudah saatnya tak ada lagi sekolah reyot jika Pemerintah Negeri Ini SERIUS dan BERSUNGGUH-SUNGGUH mengayomi hak warga negaranya. Tidak akan ada lagi SISWA-SISWA sekolah GANTUNG DIRI gara-gara malu TIDAK BISA membayar SPP. Yang besarnya boleh jadi tak sampai ongkos BENSIN para MENTERI!!.
BUKTIKAN!!! BUKTIKAN!!! Kalau cuma omong, BURUNG BEO juga BISA jadi MENTERI, jadi PRESIDEN sekalipun!!
oleh: Muhammad Rijal ARS
Menggugat KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), hari ke hari semakin menunjukkan giginya. Aku takut jika nanti komisi ini akan menggiringku ke rumah besi. Tidak!! Aku tak mau dan tidak boleh membiarkan mereka memupus mimpiku menjadi tiran di Indonesia.
Petikan kalimat di atas seperti terujar di muka para petinggi DPR, saking merasa “paling berkuasa”. Beberapa petinggi DPR terkesan menghalang-halangi penggeledahan ruang kerja Al-Kidzb (tak pantas rasanya disebut Al-Amin) dalam penyidikan dugaan kasus penyuapan.
Ya, KPK sepanjang hari kemarin berhasil menggeledah enam ruangan di gedung DPR. Setelah beberapa waktu lalu pernyataan-pernyataan miring yang terkesan kurang berkenan atas sepak terjang KPK membuat panas kuping ini.
Pernyataan penolakan penggeledahan dari beberapa petinggi DPR adalah pernyataan yang melanggar konstitusional, lah kan KPK dibuat oleh mereka ini toh. Tentu dengan i’tikad mengembalikan citra hukum Republik ini bukan? Kok dihalang-halangi. Namun, demikian prosedur hukum tetap harus dipenuhi. Seperti izin dari ketua peradilan, terus disaksikan oleh saksi. Kenapa para petinggi negeri ini harus takut?? Bukankah KPK hanya menjalankan tugas yang diamanatkan konstitusi yang dibuat DPR bersama Pemerintah?.
Sempilan hati mulai berburuk sangka, apakah ada yang disembunyikan di ruang kerja DPR itu? hayoo… Kalau tidak, mengapa harus takut digeledah??
Sudahlah, meski terlambat Ketua DPR akhirnya mengizinkan juga. Meski ada ruang yang mesti dibobol (dan tidak berhasil dibuka) hingga mesti dibuka dari dalam (lewat platfon). Edan gini.. Resistansi yang ditampilkan oleh sebagian anggota DPR ini tidak patut dicontoh. Padahal semestinya DPR berterimakasih pada KPK yang berusaha mengembalikan apa yang hilang di Orde Baru, “Semua warga negara sama dihadapan hukum”.
Majulah KPK, meski digugat orang-orang sok pintar itu. Termasuk permasalaha obligor bandel dana BLBI.
Anggota DPR Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Soeripto meragukan keseriusan pemerintah dalam mengusut tuntas kasus BLBI. Menurutnya, kasus mega skandal yang melibatkan para konglomerat hitam itu, hanya bisa dibongkar, apabila rakyat bersatu dan menganggap para pelaku sebagai musuh bersama.
Usulan yang dari Soeripto disampaikan di panggung jaringan aktivis ProDem hari minggu kemarin. Mari kita dukung pemberantasan korupsi!! Jadikan koruptor musuh masyarakat!!! Beranikah kita?
UN dan Pilkada Jabar 2008
Hari ini merupakan hari pertama Ujian Nasional (UN) SMA/SMK/MA 2008, adik saya merupakan salah satu dari mereka yang berjuang hari ini. Sebagian orang mengatakan bahwa UN kali ini lebih berat dari tahun-tahun ke belakang. Rasa-rasanya tiap tahun juga begitu.
Ironis memang, ujian 3 hari ini akan jadi penentu masa depan anak didik. Lulus atau tidak lulus. Luar biasa. Meski sebenarnya, hidup ini adalah ujian. Filosofi bahwa kesuksesan adalah proses tepat sekali. Rasa-rasanya, lulus UN juga bukan sesuatu yang sulit. Jika..
Jika kita memahaminya bukan sebagai hasil, tapi proses. Jadi kelulusan yang diraih tak akan membuat euforia berlebihan. JIka tidak lulus pun, tak akan membuat berkecil hati. Karena perjalanan kian menanjak jauh.
Jika kita memahaminya sebagai proses tadi, kita tentu telah bersiap sejak hari pertama duduk di bangku sekolah. Sama halnya bagi mahasiswa, siswa SMP, atau siswa SD sekalipun (Meski kalau yang terakhir ini sepertinya belum bisa diajak berpikir ke arah sana). Namun, demikian kita bisa menekankan pada diri kita. Bahwa ujian itu setiap saat. Oleh karenanya kita mesti bersiap dan waspada.
Soal dan Jawaban UN 2008 sedemikian rupa dibuat untuk menjadi standar kelaikan seorang siswa SMA dinyatakan lulus. Hhm.. memang model soal dan panduan materi serta pembahasan jawaban sudah disosialisasikan di puspendik.com juga dapat dilihat di PemburuBeasiswa. Hanya saja, keterbatasan teknologi sekali lagi membuat kita miris. Belum lama ini juga adanya kasus down server Jardiknas yang baru dipindah tangankan dari BPLKN Diknas ke Pustekkom Depkominfo. Atau pendapat lain ada di sini. Empunya blog adalah salah satu penggiat di Jardiknas. Belum tau apa itu Jardiknas? tunggu artikel berikutnya.
Yang jelas, hadapi UN 2008 dengan sepenuh hati. Berikan kerja terbaik, fokus dan senantiasa mendekat padaNya. Berdoá. Serahkan hasilnya pada Allah. Toh, dunia belum berakhir hanya karena tidak lulus UN.
Lanjut ke hasil pilkada Jabar 2008. Setelah bersitegang dan sempat diwarnai orang-orang piknik demonstrasi di sekitar kantor KPU Jabar. Akhirnya siang tadi Hasil Pilgub Jabar 2008 diumumkan, dengan rincian perhitungan suara sebagai berikut:
1. Danny Setiawan-Iwan Sulanjana 4.490.901 suara
2. Agum Gumelar - Nu’man Abdul Hakim 6.217.557 suara
3. Ahmad Heryawan - Dede Yusuf 7.287.647 suara
Total suara yang masuk 17.996.105 dengan suara tidak sah 806.560. Dari DPT sekitar 27, 9 juta yang menggunakan hak pilihnya 64, 5 %.
Catatan, 35,5% saya tidak katakan golput. Karena belum tentu dia tidak memilih karena pilihannya. Boleh jadi karena situasi, kondisi (di luar negeri misal), atau proses dari pembagian kartu pemilih hingga pembagian undangan untuk mengikuti pilkada menjadi salah satu penyebabnya.
Dengan pengumuman hasil rapat pleno ini ditandatangani oleh masing-masing ketua tim saksi cagub-cawagub Jabar 2008, maka HADE sudah dapat dipastikan akan menduduki kursi di Gedung Sate periode 2008-2013.
Mari kita bangun Jabar bersama-sama. Kita tunggu juga realiasasi janji pasangan terpilih.
Google PageRank
Google PageRank for website: berbagi cerita ini membuat saya kaget. Silakan cek sendiri di http://www.pagerankchecker.nl
| Google Info: | |
| Website | http://rijal28.wordpress.com |
| PageRank | 4 / 10 |
| Indexed Pages | 85 |
| BackLink | 128 |
—————————————————————————————————————————-
saya kaget, pagerank blog ini sudah 4/10 di google. edan gini?? pantesan kemarin ada yang minta backlink. hehehe, kalo ada yang mau minta backlink ke blog ini silakan saja. selama di-link balik that’s fine. terutama bagi yang seneng bisnis online. semoga sukses selalu.
sekalian promosi hosting gratis. lumayan buat usaha online. Hostingan ini benar-benar gratis, bagi yang minat build website ini solusi bagus. kapasitas “WAH”. ga percaya? buktikan sendiri, tanpa iklan, 250 MB space disk, 10 GB bandwith. Buruan!! daftar di sini.
saya coba cek ulang di www.PRChecker.info dan hasilnya:
Kartini, Sebentuk Cinta Bunda
Sejenak, setelah membaca Aku tidak sehebat Kartini tulisan Kang Bamby. Tanpa terasa airmata jatuh, seolah mengerti akan perjuangan Kartini. Tapi bukan itu ternyata, airmata ini jatuh karena aku teringat Bunda. Kebersamaan kami tak begitu lama, karena sejak umur 8 tahun aku sudah tidak tinggal bersama Bunda. Meski sepekan sekali Bunda dan Papap menemui aku, kakak dan adikku yang tinggal di Tasikmalaya.
Hingga tahun 2001, Papap dan Bunda memutuskan untuk pindah kerja ke Tasikmalaya. Sebelumnya kedua adik laki-laki saya pun diserahkan ke Mamah (panggilan buat nenek) di Tasikmalaya sekitar tahun 1996-1997. Perubahan perekonomian keluarga nyaris tak bisa dihindarkan. Papap mungkin salah satu korban kebijakan Otonomi Daerah, dimana “Penguasa PNS” berpindah kepada Bupati selaku kepala daerah. Di saat yang sama, Tasikmalaya tengah memekarkan diri. Jadilah, Papap kerja di Kab. Tasikmalaya dan tinggal di Wilayah Kota Tasikmalaya. Kebetulan, Desa Cipawitra tempat kami tinggal termasuk kawasan perbatasan antara Kota dan Kab.
Bunda menjadi tenaga pengajar aka Guru Fisika, di salah satu SMA Negeri di Kota Tasikmalaya. Oiya, Papap ditugaskan di Depdikcam Manonjaya. Surganya salak (buah). Hahahah.. Dan karena di pedalaman inilah Papap tiap pulang ke rumah (sekitar 1,5 jam perjalanan mobil pribadi) selalu membawa “oleh-oleh”.
Alhamdulillah, kami telah dipersatukan. Medio 2001adalah masa dimana aku tak bisa menahan diri, kegiatan sebagai aktivis organisasi perwakilan kelas di SMPN2 Tasikmalaya tak cukup menghalangi aktivitasku sebagai anak “bandel”. Rokok, wanita, mengisi hari-hari dan semakin tak produktif. Perkelahian demi perkelahian, ya Allah ampuni hamba..
Alhamdulillah, masih banyak sahabat yang bersedia mengingatkan. Salahsatunya Prima Almazini. Hingga akhirnya sebuah mimpi itu bermula, aku dan beberapa sahabat dekat mendaftar seleksi penerimaan Calon Taruna/Siswa SMA Taruna Nusantara. Singkatnya, aku tidak lulus di sana kemudian melanjutkan sekolah di SMAN 1 Tasikmalaya. Kuliah di POLBAN dan terbang ke Belanda. Aku tersenyum, teringat Steve Jobs.
Dan tanpa terasa, dari sekian waktu aku selalu saja menyusahkan Bunda. Malaikat yang telah melahirkanku. Separuh hidup Bunda digunakannya untuk merawatku, agar tumbuh menjadi seorang manusia.
Mengingat perjuangan Bunda dan Papap membuatku berpikir ulang untuk menahan airmata ini jatuh. Biarlah, sebagai bentuk rindu seorang anak pada kedua orang yang tak akan pernah tergantikan. Ya, Allah berikanlah mereka Surga-Mu. Bukan salah mereka jika aku jadi bengal. Maafkan aku, Rabbi..
Papap sampai hari ini masih berjuang melawan budaya tikus di birokrasi, terasing melawan kebijakan warisan penjajah dari “Raja” daerah. Beliau masih idealis, teringat pesan Beliau “Jaga Idealisme itu, Nak.. Karena jika tidak kita yang akan terbawa arus”. Sebuah kata-kata yang memacu aku untuk bisa bertahan. Melawan badai kegelisahan. Menguak tabir mimpi. Menjelang takdirku. Ya, Allah ridhoilah mereka.. jika aku menjadi baik, maka mereka adalah bagian dari kebaikan yang terpatri.
AKu sayang mereka, ya Allah. Saudara-saudara budiman ini foto keluarga kami. Keluarga Rame.
Kita tak pernah tahu, bahwa dalam do’a kedua orang tua kita selalu ada nama kita disebutnya. Tapi, mengapa angkuh hati seringkali lalai mendo’akan mereka. Bunda, Papap, Teteh, Neng, Aden, Apip, dan Mamah, semua yang mencintai kehadiran kita.
Irhamna.. Irhamna.. Irhamna.. Ya Allah..
Semoga hari Kartini, menjadi pengingat kita. Bahwa perjuangan Bunda, sebenarnya jauh lebih hebat dari Kartini.
Sebentuk Cinta untuk keluarga di Indonesia
Diana Abbas Thalib - Hidayat Nur Wahid
Kejutan baru datang lagi, Hidayat Nur Wahid memutuskan untuk menikah lagi. Sebagai seorang figur publik langkah yang beliau ambil saya kira memiliki nilai luar biasa. Saya yakin beliau memiliki alasan yang cukup untuk memilih pasangan hidup ke-2, pasca meninggalnya Istrinya tercinta 22 Januari lalu.
Siapakah calon istri Hidayat Nur Wahid? Berikut informasi yang saya dapat:
Diana Abbas Thalib adalah putri pasangan Abbas Thalib dan Fauziah. Keluarga ini menetap di kawasan elit Kemang, Jakarta Selatan.
Kabarnya, kini, Diana aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Tepatnya, aktif di Yayasan Rahmatan Lil’ Alamin (YRA). YRA bergerak di bidang dakwah, pendidikan, dan sosial. Lembaga sosial kemasyarakatan ini beralamat di Jl. Batu Merah No. 71 RT 02/02 Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di lembaga itu, dr Diana menjabat sebagai Ketua Bidang IV.
Selain itu, ia juga Direktur RSIA Bunda Aliyah Pondok Bambu, Jakarta Timur. Rumah Sakit yang beralamat di Jalan pahlawan Revolusi No 100 ini khusus dalam bidang pelayanan spesialistik kebidanan, penyakit kandungan dan kesehatan anak.
(hidayatullah.com, foto: detik.com)
informasi lainnya, Diana merupakan dokter lulusan UKI tahun 1990. Dia lalu mengambil S2 di UI. Diana merupakan penyayang anak-anak dan binatang. Untuk menyalurkan rasa cintanya pada binatang, Diana memelihara seekor kucing ras bernama Michael yang berusia 2 tahun. (Detik.com)
Pandangan saya pribadi atas keputusan Hidayat Nur Wahid, ada dua hal. Namun sebelum saya utarakan berikut pernyataan beliau:
Tuhan Yang Maha Esa, agama kita mengajarkan untuk melengkapkan ajaran agama. Dalam agama Islam, yang namanya melengkapkan ajaran agama itu kalau berkeluarga. Itu yang pertama.
Yang kedua, tentu saya punya anak dan anak itu perlu banyak orang. Saya juga merasakan pentingnya ada seorang ibu yang mengelolanya, menyentuhnya, dan membimbingnya serta mendidik anak-anak.
Dan nomor tiga, dalam ajaran Islam, ada ajaran bahwa kalau wanita itu setelah ditinggal mati suaminya ada masa iddahnya. Kalau laki-laki kan nggak ada. Ya wajar saja kalau sejak hari pertama (istri meninggal) ya diusulkan calon dan macam-macam. Ini sebetulnya diajukan atau diperkenalkan. Lebih lengkap lihat di sini.
Pandangan saya, secara manusiawi sepakat dengan apa yang telah beliau sampaikan poin 1-3. Tambahannya, secara politis keputusan ini merupakan langkah strategis dalam persiapan pemilu 2009. Di mana besar kemungkinan, beliau dicalonkan sebagai Calon Presiden 2009 dari PKS. Tentu agak sulit jika itu dilakukannya tanpa pendamping (istri). Karena sudah menjadi rahasia umum, bahwa PKS ke depan memiliki target suara 20% yang mana dengan modal itu dapat mencalonkan kadernya sebagai kandidat Capres. Kita lihat saja. Namun demikian, Semoga pernikahan Beliau dan dr. Diana Abbas Thalib yang akan dilaksanakan pada 10 Mei 2008 diberikan kelancaran serta ke depan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah sekaligus sebagai panutan bangsa Indonesia ke depan. Aaamin.
Hasil Perolehan Suara Pilkada Jabar Updated (21 April’08)
| HASIL PEROLEHAN SUARA PILKADA JABAR | |||
| No | Peserta | Jumlah Suara | Persen (%) |
| 1 | Danny-Iwan | 3.411.582 | 26% |
| 2 | Agum-Nu’man | 4.684.602 | 35% |
| 3 | Heryawan-Dede | 5.240.542 | 39% |
| Senin, 21/04/2008 11:34 WIB - Sumber KPUD Jabar | |||
di atas hasil perolehan sementara pilkada jabar. insya Allah saya updated rutin, sampai hari kamis.
ralat: insya Allah akan terus di-update sampai menjelang pengumuman akhir dari KPUD Jawa Barat ( 22/04/2008 ).
updated: pengumuman perhitungan suara hasil pilkada jabar ditutup untuk umum mulai siang tadi, yang sebelumnya direncanakan sejak tadi malam. hasil di atas adalah hasil akhir yang diumumkan, bukan tak mungkin berubah pada saat rapat pleno rekapitulasi suara KPUD merujuk pada laporan perhitungan suara dari KPU Kota dan Kab di Jawa Barat. Diperkirakan suara yang masuk 19 juta suara, lebih besar dari perkiraan awal 18 juta. Atau lebih dari 67% pemilih di Jawa Barat menggunakan hak pilihnya. Bravo buat PERSIB Pilkada Jabar.
SalamHangat,
BOM untuk HADE, HADE untuk Jawa Barat

HADE pada akhirnya memupus semua keraguan kawan maupun lawan.
Sebagaimana pemaparan pada postingan HADE di Pilgub Jabar 2008 lalu bahwa pasangan ini memiliki dua titik keunggulan.
Pertama, kesolidan partai pengusung keduanya (PKS-PAN). Sebagai partai yang berbasis kader, kedua partai ini berhasil membuktikan bahwa kader partai merupakan aset penting untuk meraup suara pada proses pemilihan kepala daerah secara langsung.
Kedua, popularitas salah satu pasangan (Dede Yusuf) yang bagaimanapun cukup dapat mendongkrak suara. Sama halnya ketika Rano Karno pada pilbup Tangerang, meski tidak terbukti ketika pengusungan Marissa Haque dalam pilkada Banten (kalah oleh pasangan lain).
Selanjutnya, adalah CITRA POSITIF yang kemudian menjadikan pasangan ini unggul dalam PILGUB JABAR 2008. Citra positif dari dua hal, pengusung dan yang diusung. PKS dan PAN sebagai partai pengusung dikenal sebagai partai reformis berisikan orang-orang muda idealis, militan dan profesional. Kedua partai ini membawa aroma perubahan, meski tak sedikit juga yang terjerumus dalam lubang hitam korupsi. Namun, demikian secara umum kedua partai pengusung ini relatif dapat dikatakan bersih dari penyakit Orde Baru (KKN).
Yang diusung pun adalah orang-orang muda yang merupakan kader asli masing-masing partai. Secara popularitas di masyarakat Jabar, Dede Yusuf jelas mengungguli Ahmad Heryawan. Meski demikian, keduanya merupakan kader unggulan masing-masing partai dan sudah barang tentu populer secara internal. Sehingga, kepercayaan kader terhadap mereka pun lebih kuat dan efeknya akan terasa ketika para kader lainnya “menjual” pasangan HADE ini.
Maka, kemenangan HADE yang sekitar 40% (sampai saat ini hasil tabulasi suara masih menunjukkan hasil demikian)dari jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya mesti dicatat tidak hanya dari salah satu faktor. Namun, secara integral bahwa pasangan ini memang dipercayai untuk memimpin Jabar.
Semoga HADE memang benar-benar HARAPAN BARU bagi masyarakat JABAR.
Zulkifli Hasan (Anggota DPR-RI FPAN), mengatakan bahwa paradigma masyarakat telah bergeser dari politik uang kepada politik moral dan idealisme seperti dilansir detik.com.
Meski demikian, perjalanan masih panjang. BOM MOLOTOV di Kantor DPD PKS Kab. Bandung misalnya, ini merupakan salah satu contoh penodaan demokrasi yang masyarakat jatuh bangun untuk memperjuangkannya. Syukurlah, pelaku telah ditangkap meski belum jelas modusnya.
Akhirnya, kita tunggu realisasi janji-janji kampanye sang terpilih. Selamat berjuang.
Visi-Misi Pasangan HADE:
VISI
“Terwujudnya masyarakat Jawa Barat mandiri, dinamis dan sejahtera”
MISI
Memecahkan stagnasi pembangunan dengan mengakselerasi secara cerdas pencapaian kesejahteraan masyarakat dibidang daya beli, kualitas pendidikan dan kualitas kesehatan.
Memfokuskan pada pembangunan nyata perekonomian masyarakat berbasis argoindustri dan bahari yang berwawasan lingkungan.
Melancarkan reformasi sungguh-sungguh atas kebekuan birokrasi menuju aparatur yang bersih, berorientasi pada pelayanan publik serta penggunaan anggaran yang pro publik.
Menumbuhkan investasi dalam negeri yang mampu secara langsung mengangkat perekonomian dan kesejahteraan rakyat.
Memperkuat pemberdayaan perempuan dalam pembangunan sosial politik dan perlindungan terhadap anak.
Menyuguhkan kehidupan beragama yang rukun, toleran dan penuh kesejukan.
Memelihara dan mengembangkan budaya dan kearifan lokal.
Mengokohkan kualitas demokrasi dengan edukasi politik dan menyetarakan partisifasi masyarakat dalam pembangunan politik.
Foto diambil dari www.kompas.com
Nobody can, but you
Bunda, bilangan tahun masehi telah menggenapkan usiamu pada angka 47. Dua kali lipat usia hidupku. Waktu-waktu bersamamu teramat berharga untuk sekedar berlalu begitu saja. Ada sebentuk cinta di sana yang tak mungkin seorang pun bisa menyamai rupa cintamu yang tak dapat jua kulukiskan lewat kata-kata.
Sebentuk cinta yang menawarkan gejolak resah seorang anak. Sebentuk cinta yang mampu menjinakkan lelaki “singa” macam aku. Engkaulah cahaya itu, yang menjadi penerang langkah-langkah gelapku. Meski segunung kedurhakaanku padamu, pintu maafmu selalu saja seluas lautan. Engkau menenangkan badai keegoisannku.
Engkau tak pernah memanjakanku lewat limpahan harta, tapi kasih sayang itu lekat. Meruah seperti bah, setiap saat. Do’a-do’a yang terlantun dari nafasmu membuatku membisu, ketulusanmu yang mengantarkan aku kemari.
Bunda, terima kasih. Semoga Allah SWT menjagamu dengan kasih sayangNya. Aaamiin. Karena aku tak tahu kapan Allah SWT akan memanggilku, sedang sampai detik ini aku belum bisa berbuat banyak untuk membahagiakanmu.
Bunda selamat berbahagia, semoga usiamu kian bertambah berkah seiring bertambah bilangannya.
Teruntuk Bunda di Tanah Air
Menyongsong Pilgub Jabar 2008 (4)

Pilgub Jabar 2008 atau pemilihan gubernur Jawa Barat telah memasuki masa kampanye sejak kamis (27/3) lalu. Putaran demi putaran kampanye semakin membuai massa untuk turut serta dalam maraknya Pemilihan gubernur langsung oleh masyarakat Jawa Barat.
Visi Misi Para Calon Gubernur Jawa Barat 2008 sudah saya sampaikan kemarin di Menyongsong Pilgub Jabar (3).
Kembali mengingatkan, bagi para calon pemilih untuk memastikan bahwa nama dulur-dulur ada di DPT (Daftar Pemilih Tetap) di pemerintah setempat. Jangan sampai pada saatnya tiba jadi masalah.
Sebuah keprihatinan, dari pikiran-rakyat. Kabarnya logistik belum siap sepenuhnya. Tinggal dua pekan, semoga Pilgub Jabar 2008 bisa lebih baik daripada pemilu-pemilu sebelumnya, maupun pemilihan langsung di tempat lain. Ayo akang-akang di KPU, Panwas, SUMANGAT!!!
Urang songsong Pilgub Jabar 2008 anu demokratis, tertib, sareng damai.
Emut saderek!! 13 April tong nepika teu nyoblos!!
Foto diambil dari http://www.pikiran-rakyat.com/



