Kartini, Sebentuk Cinta Bunda


Sejenak, setelah membaca Aku tidak sehebat Kartini tulisan Kang Bamby. Tanpa terasa airmata jatuh, seolah mengerti akan perjuangan Kartini. Tapi bukan itu ternyata, airmata ini jatuh karena aku teringat Bunda. Kebersamaan kami tak begitu lama, karena sejak umur 8 tahun aku sudah tidak tinggal bersama Bunda. Meski sepekan sekali Bunda dan Papap menemui aku, kakak dan adikku yang tinggal di Tasikmalaya.

Hingga tahun 2001, Papap dan Bunda memutuskan untuk pindah kerja ke Tasikmalaya. Sebelumnya kedua adik laki-laki saya pun diserahkan ke Mamah (panggilan buat nenek) di Tasikmalaya sekitar tahun 1996-1997. Perubahan perekonomian keluarga nyaris tak bisa dihindarkan. Papap mungkin salah satu korban kebijakan Otonomi Daerah, dimana “Penguasa PNS” berpindah kepada Bupati selaku kepala daerah. Di saat yang sama, Tasikmalaya tengah memekarkan diri. Jadilah, Papap kerja di Kab. Tasikmalaya dan tinggal di Wilayah Kota Tasikmalaya. Kebetulan, Desa Cipawitra tempat kami tinggal termasuk kawasan perbatasan antara Kota dan Kab.

Bunda menjadi tenaga pengajar aka Guru Fisika, di salah satu SMA Negeri di Kota Tasikmalaya. Oiya, Papap ditugaskan di Depdikcam Manonjaya. Surganya salak (buah). Hahahah.. Dan karena di pedalaman inilah Papap tiap pulang ke rumah (sekitar 1,5 jam perjalanan mobil pribadi) selalu membawa “oleh-oleh”.

Alhamdulillah, kami telah dipersatukan. Medio 2001adalah masa dimana aku tak bisa menahan diri, kegiatan sebagai aktivis organisasi perwakilan kelas di SMPN2 Tasikmalaya tak cukup menghalangi aktivitasku sebagai anak “bandel”. Rokok, wanita, mengisi hari-hari dan semakin tak produktif. Perkelahian demi perkelahian, ya Allah ampuni hamba..

Alhamdulillah, masih banyak sahabat yang bersedia mengingatkan. Salahsatunya Prima Almazini. Hingga akhirnya sebuah mimpi itu bermula, aku dan beberapa sahabat dekat mendaftar seleksi penerimaan Calon Taruna/Siswa SMA Taruna Nusantara. Singkatnya, aku tidak lulus di sana kemudian melanjutkan sekolah di SMAN 1 Tasikmalaya. Kuliah di POLBAN dan terbang ke Belanda. Aku tersenyum, teringat Steve Jobs.

Dan tanpa terasa, dari sekian waktu aku selalu saja menyusahkan Bunda. Malaikat yang telah melahirkanku. Separuh hidup Bunda digunakannya untuk merawatku, agar tumbuh menjadi seorang manusia.

Mengingat perjuangan Bunda dan Papap membuatku berpikir ulang untuk menahan airmata ini jatuh. Biarlah, sebagai bentuk rindu seorang anak pada kedua orang yang tak akan pernah tergantikan. Ya, Allah berikanlah mereka Surga-Mu. Bukan salah mereka jika aku jadi bengal. Maafkan aku, Rabbi..

Papap sampai hari ini masih berjuang melawan budaya tikus di birokrasi, terasing melawan kebijakan warisan penjajah dari “Raja” daerah. Beliau masih idealis, teringat pesan Beliau “Jaga Idealisme itu, Nak.. Karena jika tidak kita yang akan terbawa arus”. Sebuah kata-kata yang memacu aku untuk bisa bertahan. Melawan badai kegelisahan. Menguak tabir mimpi. Menjelang takdirku. Ya, Allah ridhoilah mereka.. jika aku menjadi baik, maka mereka adalah bagian dari kebaikan yang terpatri.

AKu sayang mereka, ya Allah. Saudara-saudara budiman ini foto keluarga kami. Keluarga Rame.

Kita tak pernah tahu, bahwa dalam do’a kedua orang tua kita selalu ada nama kita disebutnya. Tapi, mengapa angkuh hati seringkali lalai mendo’akan mereka. Bunda, Papap, Teteh, Neng, Aden, Apip, dan Mamah, semua yang mencintai kehadiran kita.

Irhamna.. Irhamna.. Irhamna.. Ya Allah..

Semoga hari Kartini, menjadi pengingat kita. Bahwa perjuangan Bunda, sebenarnya jauh lebih hebat dari Kartini.

Sebentuk Cinta untuk keluarga di Indonesia


Monetize your web site

3 Responses to “Kartini, Sebentuk Cinta Bunda”

  1. salam..cinta keluarga indonesia

  2. ternyata masih ada pns yang idealis seperti ortumu. salut! karena sulit mempertahankan prinsip dengan lingkungan yang tidak mendukung. kalau ingat hal ini, sedih rasanya semua temen2ku yg pns selalu menjawab “susah sekali untuk menghindar” setiap aku tanya “pren, jangan ikutan korupsi ya”. ironis memang! ok bangzenk, salam kenal ya, cepetan pulang ke indo….:)

  3. iya begitulah mbak dewi.. banyak kok yang idealis, hanya jarang yang mampu melawan keadaan. terutama budaya korupsi.

    terima kasih sudah berkunjung, kok alamat blognya gak ditautkan.. jadi ga bisa maen.

    salamhangat.
    berbagi cerita..

Leave a Reply