Menghitung Warna Pelangi


“bahwa mencintai alam adalah juga mencintai penciptanya,,

PHIPETALA, nama itu masih ada di hati dan hari2 saya. Memaknainya sama dengan nafas yang terhirup di hari2 saya sejak akhir 2002 dari sebuah lembah, cakrabuana. Pendidikan dasar Anggota Madya PHIPETALA, hanya tiga hari memang. Namun, sampai saat ini tiga hari itu masih terasa nyata. Suasana itu masih berbekas jelas di hati dan selamanya takkan hilang.

Banyak orang bertanya saat itu, kenapa -dengan sekian organisasi yang telah saya masuki- malah masuk PHIPETALA. Apa ga cukup gitu? kata orang2. Apa ga cukup sibuk? Apa ga cukup lelah?. Apa tujuannya sih?. Dan semuanya terjawab waktu.

Pernah suatu ketika ada seorang sahabat (wanita) menangis di balik tirai sebuah ruang berkaca, melihat saya ditampari, dipukul dan ditendang di tanah lapang beratap terik matahari. Pernah juga suatu ketika seorang guru terpana, melihat saya dalam situasi yang sama. Kenapa harus seperti itu, tanya mereka. Hanya senyuman yang dapat saya berikan untuk menjawab setiap pertanyaan mereka.

PHIPETALA, rona itu masih teringat hangat. Rona lelah, rona bimbang, rona-rona hormat dan bersahabat.

Banyak hal yang saya dapat dari PHIPETALA, hampir setiap moment bersamanya menciptakan kenangan indah. Saya tidak ingin bercerita tt asal mula saya masuk PHIPETALA, karena alasannya sederhana dan bakal ga rame klo dibilangin.

Sejujurnya saya juga malu, karena tak banyak yg saya lakukan buat almamater ini, terlebih saya ga kebagian diamanahi jadi pengurus. karena ya, itu. saya masuk PHIPETALA pada tahun ke-2, jadi tahun ke-3 saya dah off.

  1. FOKUS, karena kebetulan saat itu saya punya amanah jadi Ketua Seksi V OSIS, juga Purna Paskibraka Kota Tasik, dan KaBid Kegiatan dan Operasional Ambalan Satya Karya Laksana. Ketiga-tiganya saat itu sedang melaksanakan kegiatan, dan di setiap tempat saya memiliki amanah yang berbeda2. Dan sejak saat itu, saya bisa fokus dalam memposisikan diri di setiap amanah yg saya pegang. Pun ketika diamanahi jadi KaBEM KEMA Polban, juga di Ketua Pembinaan Mentor ZISWaf Yayasan Percikan Iman dan lainnya. Indah..
  2. NAVIGASI, kadang saya berjalan sekenanya. Suka-suka, asyik-asyik. Kemana kaki melangkah, di sana jiwaraga sampe. He3.. tapi tidak lagi, sejak malam pertama saya di Cakrabuana. Saya butuh navigasi yang akan mengarahkan saya pada pertemuan-Nya yg tanpa halang. juga di setiap cita dan pengharapan yang saya canangkan.
  3. KEBERANIAN, saya bukan pengecut, hanya kadang tiap kita punya ktakutan tersendiri. Saya paling sulit melawan kelemahan diri, sejak saat itu juga saya mulai berani melawan kelemahan saya keraguan diri. Terbukti saya dua kali refling di airterjun yg tingginya ga kurang dari 20 meter.
  4. SETIAKAWAN, bukan pula karena sy tidak setiakawan, ini terlebih tt tau-sama-tau kelemahan kawan kita, sehingga kita tau juga dimana kita mesti bantu dia. mungkin fisik, mungkin yang lain. Inget tt si Togel, kawan2?? si Abok, Si Kuncup, hanya contoh.
  5. PHILOSOFI PECINTA ALAM, mungkin ini yang agak nyeleneh. saya menemukannya sendiri, bukan atas makian, tamparan dan sgala kontak suara dan fisik. saya menemukannya pada barisan shalat berjama’ah kawan2 seangkatan. Badan boleh berlumuran lumpur, bengkak-bengkak. Tapi kami tetap bersujud bersama padaNya. pada Sang Maha Pencinta, Sang Pecipta Alam. Dan sejak saat itu diniatkan dihati untuk mendaki demi meraih cinta-Nya, ridho-Nya dalam setiap desah nafas pendakian, dalam balutan dingin suasana puncak. Hingga meresap, bahwa mencintai alam adalah dengan mencintai penciptanya, mencintai Pencipta Alam adalah dengan mencintai alam ciptaanNya.

Maka hampir enam tahun dari saat itu, syal orange itu tetap menjadi lambang kukuh sebuah pengharapan dan keteguhan janji. Tentang janji untuk senantiasa pulang dengan selamat. Karena ketika kita pegang filosofi tadi, maka puncaknya bukan pada titik tertinggi gunung yang kita daki, melainkan terletak pada sejauh mana kerja terbaik yang kita berikan dalam pendakian ini.

Sebaris sederhana, tetaplah menjadi PHIPETALA sejati.. yang mendaki bukan untuk menaklukan alam, tapi untuk bisa pulang dengan selamat.

salamhangat,
~seorang pendaki



Monetize your web site

5 Responses to “Menghitung Warna Pelangi”

  1. oh beginilah kader PHIPETALA
    diosol-osol dan diadu-adu

    tapi biar tidak apa
    asal untuk PHIPETALA

    PHIPETALA-ku jaya
    almamater kita

  2. wir wir yang wir wir yang
    dog dog yang dog dog yang
    bertakkeber keber …… bertakeber keber …….
    buto buto

    salam rimba phipetala

  3. salam rimba!!!!

  4. @vezi
    salam rimba juga!! TALA!!

  5. [...] seorang pendaki gunung dan anggota pramuka saya turut berduka cita, semoga amal ibadah ybs diterima di sisi Allah SWT. [...]

Leave a Reply