Nobody can, but you
Bunda, bilangan tahun masehi telah menggenapkan usiamu pada angka 47. Dua kali lipat usia hidupku. Waktu-waktu bersamamu teramat berharga untuk sekedar berlalu begitu saja. Ada sebentuk cinta di sana yang tak mungkin seorang pun bisa menyamai rupa cintamu yang tak dapat jua kulukiskan lewat kata-kata.
Sebentuk cinta yang menawarkan gejolak resah seorang anak. Sebentuk cinta yang mampu menjinakkan lelaki “singa” macam aku. Engkaulah cahaya itu, yang menjadi penerang langkah-langkah gelapku. Meski segunung kedurhakaanku padamu, pintu maafmu selalu saja seluas lautan. Engkau menenangkan badai keegoisannku.
Engkau tak pernah memanjakanku lewat limpahan harta, tapi kasih sayang itu lekat. Meruah seperti bah, setiap saat. Do’a-do’a yang terlantun dari nafasmu membuatku membisu, ketulusanmu yang mengantarkan aku kemari.
Bunda, terima kasih. Semoga Allah SWT menjagamu dengan kasih sayangNya. Aaamiin. Karena aku tak tahu kapan Allah SWT akan memanggilku, sedang sampai detik ini aku belum bisa berbuat banyak untuk membahagiakanmu.
Bunda selamat berbahagia, semoga usiamu kian bertambah berkah seiring bertambah bilangannya.
Teruntuk Bunda di Tanah Air











[...] mengerti akan perjuangan Kartini. Tapi bukan itu ternyata, airmata ini jatuh karena aku teringat Bunda. Kebersamaan kami tak begitu lama, karena sejak umur 8 tahun aku sudah tidak tinggal bersama Bunda. [...]