Pungkas Tri Baruno: Tunas Indonesia
Bendera setengah tiang untuk kawan Pungkas Tri Baruno. Sebagaimana diketahui, Pungkas Tri Baruno adalah salahsatu dari 2 pendaki peserta ekspedisi Tunas Indonesia yang berhasil mendaki puncak Gn. McKinley (AS).
Sebagai seorang pendaki gunung dan anggota pramuka saya turut berduka cita, semoga amal ibadah ybs diterima di sisi Allah SWT. Sekali lagi, ini adalah sebuah pelajaran bagi kita. Tentang takdir kematian. Tentang kekuasaan Allah SWT di atas segala upaya manusia. Tentang rahasia alam. Tentang warna pelangi.
Muhammad Rijal ARS
Anggota Madya PHIPETALA XX
Pupung, begitulah mahasiswa program studi Desain Interior Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan angkatan 2007 Universitas Mercu Buana ini biasa disapa. Mahasiswa yang lahir di Jakarta, 11 April 1988 terkenal sebagai orang yang selalu bersemangat dalam menjalani hari-harinya.
Kegemarannya akan pendakian telah membawa si bungsu dari tiga bersaudara ini meraih berbagai prestasi yang patut dibanggakan sejak SMP dalam kegiatan Pramuka. Pungkas menjadi peserta Jambore DKI Jakarta pada 2000. Pada 2002, Pungkas mendaki Gunung Salak. Pada 2003, pria berbadan 170 cm ini juga menjajal Gunung Galunggung. Dan akhirnya, Pungkas terpilih untuk mengikuti Ekspedisi Tunas Indonesia menuju Gunung Mc Kinley di Alaska Amerika Serikat, pada 12 Juni 2008 dengan tujuan menumbuhkan rasa cinta alam dan kasih sayang terhadap sesama. Ekpedisi ke Gunung Mc Kinley, Alaska adalah ekspedisi pertama Pungkas ke luar negeri.
Bersama salah seorang rekan pendaki dari Indonesia, Ni’Matur Rohmah dan dua orang pemandu warga Amerika Serikat, Pungkas mendaki Gunung Mc Kinley hingga ke puncak dan berhasil menancapkan bendera Merah Putih. Tetapi sebelumnya, kedua teman pendaki yang lain, Zulfa Ahyar dan I Gusti Kurnia Bayu Kresna, dilaporkan mengalami kram kaki dan tidak dapat melanjutkan pendakian. Tapi apa daya, hidup manusia ada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Pungkas meninggal dalam perjalanan turun dari puncak di ketinggian 17.400 kaki atau sekitar 5.000 meter, setelah sebelumnya sempat terjatuh dua kali dan akhirnya pingsan. Pertolongan pertama yang diberikan ternyata tidak mampu menyelamatkan nyawanya.
Menurut kedua orang tuanya, Pupung merupakan anak yang aktif mengikuti berbagai kegiatan, terutama kepramukaan dan pendakian. Tapi, Pupung tidak terlalu suka bila harus mendokumentasikan semua kegiatannya. “Dia pekerja keras. Semangatnya luar biasa, tapi kadang memang kegiatan dia agak tertutup, jarang dia bicarakan,” cerita Mumpangat, ayahnya. Selain itu, Pupung juga dikenal sebagai orang yang agamis, tidak pernah melupakan shalat. Bahkan, ketika harus menunaikan ibadah shalat di gunung, Pupung sempat meminta nasehat orang tua nya, harus menghadap ke mana dan kapan karena lokasi yang dekat kutub, sehingga tidak dapat diketahui waktu dan arah yang tepat. “Saya sarankan, kalau tidak tahu patokan waktu dan arah, shalatnya dijamak atau qasar saja,” kata Mumpangat. Hingga saat ini (Rabu, 9 Juli 2008), jenazah korban belum bisa diturunkan dari gunung karena buruknya cuaca dan beratnya medan yang harus ditempuh.
Pungkas meninggalkan kedua orang tua, Mumpangat dan Ismiharti serta kedua orang kakaknya. Kini pihak keluarga masih menunggu kepulangan jenazah. Meskipun masih dalam suasana berduka, ketegaran masih tampak di mata keluarga.Kami segenap Sivitas Akademika Universitas Mercu Buana mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya Pungkas Tri Baruno. Semoga Almarhum diterima di sisi-Nya. Dan tetap tabah serta kuat kepada keluarga yang ditinggalkan. Merah Putih telah berkibar di puncak Gunung Mc Kinley. Purna sudah tugas Pupung. Salam dan doa teriring untuknya. Selamat jalan Pupung, Sang Pendaki Gunung Kebanggaan, jasamu menancapkan Merah Putih akan terus kami kenang. sumber: http://ratnasavitri.multiply.com/reviews/item/46




























































