Sophan Dilindas Peserta Konvoi
Beberapa waktu ini kalangan bikers sibuk membicarakan tentang adanya versi lain kisah berpulangnya Sophan Sophian, artis senior yang juga sempat menjadi wakil rakyat di DPR/MPR RI. Sophan sendiri dikenal sebagai biker senior, pun di akhir hayatnya Ia sedang dalam aksi konvoi Jalur Merah Putih (JMP) beberapa waktu lalu dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-100.
Komentar pribadi:
Kepulangan adalah sebuah kepastian, meski kita tak pernah tahu kapan dan dengan cara apa kita akan kembali pulang menghadap-Nya. Pun dalam kasus ini, hal utama adalah keikhlasan dari keluarga dan segenap kerabat yang bersangkutan. Kemudian di luar hal itu, adalah KEJUJURAN dan KEJELASAN dari pihak-pihak yang pada saat itu menyaksikan benar apa yang terjadi. Jika perlu dilakukan reka ulang peristiwa, macam rekonstruksi perkara. Agar tak ada lagi “dusta” maupun rasa “penasaran” terutama di kalangan yang merasa kehilangan, terutama keluarga.
Hal lainnya adalah, konspirasi. Tanggapi saja dengan sederhana, usah terlalu didalami. Banyak pihak yang ingin memperkeruh suasana.
Terkhusus pada Widyawati dan keluarga yang ditinggalkan, saya pribadi ikut berbela sungkawa. Semoga amal islam Bapak diterima oleh Allah SWT hingga Allah SWT berkenan memberikan rahmat-Nya, yang kelak berbuah Surga. Aamiin.
Berikut kutipan berita dari Surya Online
Kamis, 04 September 2008
Widyawati Minta Kejujuran Penabrak, Seratus hari telah lewat. Widyawati masih juga menyimpan pertanyaan seputar kematian suaminya, aktor sekaligus mantan anggota MPR RI, Sophan Sophiaan. Kepergian Sophan sangat memukul Widyawati. Bintang film Romi & Yuli itu meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas saat konvoi motor gede (moge) memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, di perbatasan Ngawi-Sragen pada 17 Mei 2008 lalu. Namun sang istri, Widyawati, meragukannya.
Di balik keikhlasan untuk merelakan kepergian sang suami, Widya merasakan keganjilan. Yang membuat Widyawati masygul adalah saat menerima surat dari kepolisian. Widya mendapat dua amplop dari Polda Jatim yang berisi satu laporan kejadian dan satu lagi pernyataan belasungkawa.
“Ketika saya mau buka, dua surat itu sudah digunting. Seharusnya ini tidak boleh dibuka, saya yang harus buka. Ini saja sudah menyalahi. Kenapa? Ada apa ini?” tanya Widyawati di kediamannya, Jl Garuda C11/1, Bintaro Sektor 1, Jakarta Selatan, Rabu (3/9).
Widya merasa keyakinannya kuat, apalagi dalam siaran televisi ketika itu juga ada anak kecil yang menjadi saksi bahwa Sophan ditabrak oleh penunggang moge di belakangnya.
Jika baru Rabu (3/9) Widya bercerita, itu karena dia dulu panik. “Nggak mungkin ini kecelakaan tunggal. Kalau kecelakaan tunggal, kalau jatuh dari motor gede, paling patah-patah, tidak sampai menghilangkan nyawa seseorang. Saya cek hasil rontgen suami saya, di situ juga ada kejanggalan. Kalau cuman kecelakaan murni, nggak sampe segitunya,” katanya.
Widyawati mengatakan suaminya juga pernah kecelakaan ketika mengendarai Harley Davidsonnya saat melintasi jalan arteri Permata Hijau, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Ketika itu efek yang ditimbulkan tak separah kecelakaan di perbatasan Ngawi-Sragen pada 17 Mei 2008. Widyawati menambahkan bahwa almarhum Sophan cukup lihai mengendarai moge seberat sekitar 388 kg itu.
Widyawati meyakini suaminya itu terlindas moge milik biker lain yang juga masuk dalam rombongan yang dipimpin Sophan.
“Saya tahu siapa orangnya, tetapi saya nggak perlu menyebutkan. Saya ketuk hatinya dan saya ingin sekali ada kejujuran,” ujarnya. Dia mengaku mengetahui pelaku yang diduga telah menewaskan Sophan. Meski begitu dia tak ingin melaporkan kejadian ini pada polisi. Widya hanya ingin orang yang diduga menabrak Sophan itu terbuka.
Perempuan kelahiran 12 Juli 1950 itu bertambah curiga ketika mengetahui ada saksi yang mengatakan bahwa suaminya ditabrak dari belakang. “Keterangan itu seharusnya dikejar, keterangan saksi itu juga menjadi tolak ukur saya,” imbuhnya
Dari catatan 17 Mei 2008, Sophan mengendarai Harley Davidson Ultra Classic Electra Glide produksi 2005. Dia tercatat sebagai peserta dengan nomor urut lima dan berada di barisan depan yang diisi orang-orang penting. Di antaranya mantan Kapolri Jenderal Roesmanhadi, mantan Panglima Armada Bagian Barat Laksamana Muda Mualimin Santoso, mantan Asisten KSAD Mayjen Irvan Edison, serta Marsekal Muda Peter Watimena, yang merupakan mantan penerbang pesawat tempur.
Kecepatan kendaraan saat itu antara 60-70 km/jam. Selain itu, terdapat pula Pengusaha Jamu Sido Muncul, Irwan Hidayat, dan perwakilan dari negara tetangga seperti Jamaludin dari Singapura dan Datuk Taliyudin dari Malaysia.
Saat rombongan melintasi perbatasan Ngawi-Mantingan, persis di kawasan hutan Widodaren, moge yang ditunggangi Sophan menghantam lubang besar. Sophan tak dapat mengendalikan mogenya yang seberat sekitar 388 kg seharga Rp 350 juta itu dan akhirnya terperosok ke dalam lubang. Diperkirakan lebar lubang jalanan yang dilewati Sophan antara 1,5 - 2 meter dengan kedalaman 10 sampai 15 cm.
Akibatnya, tulang tangan kiri, paha kiri hingga rusuk sebelah kirinya remuk. Aktor besar itu tak sadarkan diri, dari mulutnya mengeluarkan banyak darah.
Menurut Kapolres Ngawi AKBP Eddy S Tambunan, kecelakaan itu murni kecelakaan tunggal dan diduga akibat kerusakan jalan Ngawi-Sragen. Dr Imam Fadli, salah seorang dokter RSUD Sragen, menambahkan, sejumlah tulang di bagian dada Sophan Sophiaan patah. Sophan juga mengalami sejumlah luka di bagian paha dan tangan.
Peter Wattimena yang menjadi Penasihat Jalur Merah Putih mengaku berada persis di belakang Sophan saat kecelakaan terjadi. Setelah Sophan terjatuh dari mogenya, Peter bahkan sempat menolong dan membantu mengangkat tubuh Sophan dari lubang. Menurut Peter, sejak berangkat dari Kediri, rombongan jalur Merah Putih itu mendapatkan pengawalan tiga polisi bermotor.
Selain tiga polisi pengawal, di depan moge yang dikendarai Sophan juga terlihat moge yang dikendarai captain safety rider. Captain safety rider inilah yang bertugas memberitahukan kondisi jalan raya yang akan dilewati rombongan.
Kabar meninggalnya mantan politisi PDIP kelahiran Makassar, 26 April 1944, itu karena konspirasi memang sudah berembus di kalangan wartawan beberapa hari setelah Sophan wafat. Diduga konspirasi untuk menghilangkan nyawa Sophan karena almarhum tengah mengerjakan proyek politik bersama sejumlah politisi jelang Pemilu 2009. wk/jbp/yls










